Sanghyang Heuleut, bandung rasa belitung ( part 2 )
( yang belum baca bagian sebelumnya, mangga klik sanghyang heuleut part 1 )
Sebelumnya nih, karena ga tau bener rute ke sanghyang
heuleut dari pipa-pipa besar PLTA Saguling, saya dan teman saya Deni akhirnya
nungguin orang yang mau pergi kesana juga, dan untungnya sih ga berapa lama ada
rombongan anak remaja yang kayanya mau ke sanghyang heuleut juga, akhirnya
kamipun ngikutin mereka. Ternyata kami harus menaiki tangga yang ada dibalik pipa
besar tersebut, ga ngeuh ada tangga karena pipa nya gede banget, padahal disitu juga
ada anak kecil penjual minuman, pas nanya ke mereka juga mereka pada tau, dan
perjalanan sebenarnya dimulai dari balik benteng yang kami naiki melalui
tangga ini.
Dari balik benteng kami menyusuri jalanan setapak yang kanan
kirinya adalah areal perkebunan milik warga, beberapa kali ditemui tanjakan dan
turunan yang bikin paha pegel, jembatan kayu yang berderit ketika dipijak,
jalan mepet pinggiran pohon, bahkan kadang kita harus loncat diantara bebatuan dialiran sungai. Sebenernya trek menuju ke sanghyang heuleut ini lumayan
sulit juga ( seengaknya buat saya yang jarang olahraga ), tapi warga sekitar
berusaha semampunya membuat akses jadi sedikit lebih mudah, hatur nuhun pisan.
Di
jalur menuju sanghyang heuleut kita juga bisa menemukan situs purbakala Goa Sanghyang Poek, saya dan deni sempat akan menuju kesana, tapi karena takut lokasinya
jauh jadi kami mengurungkan niat dan kembali ke trek menuju sanghyang heuleut.
Perjalanan dari titik point pipa PLTA ke sanghyang heuleut
sendiri memakan waktu kurang lebih 1,5 sampai 2 jam, bener-bener menguras
tenaga dan pikiran, ( mikirin gimana capenya pas balik nanti ), tapi untungnya
diperjalanan kita bisa nemuin pemandangan yang bagus, bisa lah istirahat sambil
foto-foto. Dan perjalanan melelahkan ini terbayar saat kita sampai di sanghyang
heuleut.
Sebelum tengah hari kami sampai juga di tujuan, kami
langsung pasrah beristirahat di sebuah warung, sambil menikmati bekal makan.
Dan memang saat jam 12 semua kegiatan di air dihentikan selama 15 menit, ada
beberapa penjaga ( yang nyewain pelampung sih ) yang nyuruh semua orang di air
buat naik, kata si aa nya sih suka tiba-tiba keruh airnya kalo ada orang yang
main air saat tengah hari.
Setelah makan dan istirahat saya dan deni langsung
turun, kami nyewa pelampung harganya 20rb per orang. Disini kita bisa berenang disebuah kolam alami dengan kedalaman kurang lebih 10 meter yang dikelilingi tebing batu dan bebatuan besar, karena batu besar inilah, tempat ini mengingatkan kita sama pantai yang ada di belitung sana, makanya diawal kemunculannya di sosmed, banyak yang bilang kalo sanghyang heuleut ini bandung rasa belitung. Aktifitas yang bisa dilakuin
disini selain berenang adalah lompat dari batu, sebagai orang yang takut
ketinggian saya cuma bisa nonton aja orang-orang loncat dari atas batu, bahkan
anak kecil aja pada berani loncat ( salut! ). Nah kalo kamu ga berani-berani banget mah jangan maksain, apalagi loncat sambil pegang kamera, katanya banyak yang
ilang gopro disini, ( beneran go pro ) alhasil kata ibu warung banyak wisatawan yang pulang
sambil nangis, so sad kan liburannya menyisakan duka yang teramat dalam ( berlebihan :p ).
Puas bermain, sekitar jam 3 kami pulang karena takut
kemaleman, saat itu belum ada tempat bilas ya disini kami hanya ganti baju di
bilik sederhana yang terbuat dari spanduk di belakang warung.
Dalam perjalanan pulang, kami juga sempat mampir ke Waduk Saguling, kemudian pulang lewat jalur cililin, yang ternyata lebih jauh dari
jalur rajamandala.
.raiirwan.









Komentar
Posting Komentar