Pantai Cijeruk Indah , serasa pantai milik sendiri.
Ini adalah lanjutan cerita dari Malam Mencekam di pantai Cijeruk Indah part 1 dan Malam Mencekam di Pantai Cijeruk Indah part 2 yang belum baca monggo langsung ke TKP aja. Nah berhubung suasana mencekam juga udah selesai, judulnyapun saya ganti ya di part ke 3 ini.
Pagi hari di Cijeruk sangat indah, berbeda dengan malam yang
kami rasa sangat mencekam. seperti kata Ibu Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, pagi ini cuaca cerah ceria dengan angin pagi yang tenang menyejukkan. Saya sempet balik lagi ke tempat camping buat ngambil
barang-barang yang kececer semalam tadi, beresin sampah yang kami bawa, juga memenuhi panggilan alam.
Lalu lapar membawa kami ke dapur untuk memasak spageti instan yang saya bawa dari bandung. Asal tau aja nih, saya orangnya sangat prepare, anak-anak yang lain ga ada yang kepikiran bawa ginian, spageti instan, bumbu sama saosnya, bahkan sendok garpu dan rantangnya saya bawa hahha.
![]() |
| morniiiiing.. |
Lalu lapar membawa kami ke dapur untuk memasak spageti instan yang saya bawa dari bandung. Asal tau aja nih, saya orangnya sangat prepare, anak-anak yang lain ga ada yang kepikiran bawa ginian, spageti instan, bumbu sama saosnya, bahkan sendok garpu dan rantangnya saya bawa hahha.
Udah sarapan kami nyebrang sungai pake rakit buat
jalan menyusuri tepian pantai cijeruk indah, yang benar-benar indah. Harga sekali nyebrang itu 2rb per orang, 10rb untuk motor, dan kita nanti bakal ditungguin sama mamang pilot rakitnya. Setelah sampai sebrang, sepanjang mata
memandang hanya ada langit, ombak, dan kami berenam, jadi kaya private beach
gitu. Karena pantai ini langsung menghadap samudera hindia, ombak yang datangpun tinggi-tinggi, ditambah di beberapa bagian banyak karang, kami ga ada yang berani berenang dipantai, cukup jalan dipinggir aja
bareng kepiting-kepiting kecil yang lucu. Disini juga kita bisa nemuin sungai kecil yang jernih mengalir ke pantai.
Setelah puas bermain kami siap-siap pulang, saat itu cuaca sangat terik, kami meminta es teh manis ke ibu warung. Bayangin aja setelah cape menyusuri pantai, dan cuaca panas terik, es teh manis membawa kesegaran yang hakiki bagi kami.
Setelah
mengurus segala pembayaran apa saja yang kami pakai dan makan, juga tak lupa mengucapkan beribu terimakasih dan pamit ke ibu warung, kami segera menuju pom
bensin terdekat buat mandi, karena di cijeruk tolet umum ga memadai ( pom bensin terdekat ada di sekitaran sayang heulang ). Pas pulang kami baru liat di sebelah kiri
jalan ke pantai ada makam yang ukurannya sangat panjang kalo dibanding makam
pada umumnya. Dari situ kami mulai mengaitkan ke kejadian semalem, herza, ruben, ari
sempet ngeliat mahluk yang tak kasat mata disana, dan perjalanan pulangpun penuh
cerita.
Perjalanan pulang kami sempetkan berfoto di perkebunan teh daerah
cikajang, dan mampir ke kampung halaman saya di cikajang untuk makan siang. Ga lupa
berendem juga di pemandian Cipanas Garut untuk kembali merelaksasi otot tubuh yang kaku dan lelah. Kami sampai di bandung tepatnya depan
kandang kingkong jam 11 malam, saya segera pulang kerumah untuk menyiapkan
tenaga karena besoknya harus kerja ( T.T ), dan sampe rumah baru ngeuh kalo jempol kaki
saya yang luka sudah bengkak dan bernanah.
![]() |
| di cikajang |
.raiirwan.











Komentar
Posting Komentar