Sanghyang Heuleut, bandung rasa belitung ( part 1 )




Pergi kesini udah lama banget sih, beberapa kali mau nulis tapi ga pernah selesai wkwkwk. Tapi belum basi-basi banget lah ya buat diceritain sekarang.

Tetep ya, gara-gara liat explore di instagram ada tempat yang bagus dan jadi ngehits, selalu pingin dong buat kesana. Dan akhirnya pada tanggal 7 agustus 2016 kesampean lah saya bersama seorang teman pergi ke Sanghyang Heuleut. Sanghyang Heuleut merupakan aliran air yang tertahan bebatuan jadi membentuk sebuah danau. Kata sanghyang sendiri memiliki arti dewa atau dewi, pokoknya sosok yang di hormati dan disucikan, sedangkan heuleut berarti selisih antara dua waktu. Konon nih  tempat ini dulunya dijadikan sebagai tempat pemandian bidadari, nah merujuk dari cerita tersebut kemungkinan tempat ini adalah titik temu dua waktu berbeda antara khayangan dan bumi, makanya namanya sanghyang heuleut. ( baca dari beberapa referensi ).

Berangkat dari Dago sekitar jam 8 pagi, saya bertugas sebagai pengemudi dan Deni teman saya, bertugas sebagai ban serep. Engga deng, dia jadi navigator dengan GPS ditangannya. Untuk menuju sanghyang heuleut, kita bisa lewat Cililin atau Rajamandala yang pasti arahkan kendaraan kita menuju PLTA Saguling. Kami memilih lewat rajamandala karena lumayan familiar jalannya, dan jam 10 kami pun sampai di kawasan PLTA.  Penunjuk jalan ke lokasi sanghyang heuleut lumayan jelas guys, jadi jangan takut nyasar ya.
Ditengah perjalanan, motor saya diberhentikan oleh warga, dan disuruh parkir ditempat itu, awalnya saya ingin parkir dilokasi terdekat dengan PLTA, tapi rupanya warga tersebut tetap keukeuh, akhirnya daripada kenapa-napa saya mengalah, saat itu kami harus membayar 10rb rupiah untuk parkir dan biaya masuk 2 orang, ( saya sebut biaya dan bukan tiket karena memang ga ada tiket resmi ).

Dari tempat parkir tersebut kami berjalan lumayan jauh menuju ke pipa-pipa besar PLTA, yang menurut info adalah titik awal perjalanan ke sanghyang heuleut. Disepanjang perjalanan ini banyak warga yang menawarkan jasa pemandu, karena takut harganya mahal, kami menolak dan berpura-pura pernah kesini sebelumnya.

Ketika sampai di pipa PLTA, kami sebenernya ga tau harus pergi kemana, jika kita melihat kebawah akan tampak menara-menara sutet milik PLTA, dan dikejauhan ada aliran sungai, dengan sotoynya saya mengira pasti sanghyang heuleut ada dibawah sana. Tapi karena kurang yakin, akhirnya kami hanya berfoto-foto disana sambil menunggu orang lewat yang juga akan ke sanghyang heuleut. Dan ga berapa lama akhirnya datang geng gaol cabe-terong yang dari bau-baunya nih saya yakin mereka akan menuju tempat yang sama dengan saya, maka kamipun mengekor mereka. Dan benar saja, ini adalah titik awal untuk perjalanan panjang menuju surga tersembunyi sanghyang heuleut. Perjalanan sebenarnya, akan segera dimulai.

Bersambung…



poto2 dulu aja..



trek sebenarnya ada dibalik benteng ini

pipa besar dibelakang saya..


















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Mencekam di Pantai Cijeruk Indah ( part 1 )

Malam Mencekam di Pantai Cijeruk Indah ( part 2 )

Kesegaran di Sendang Geulis Kahuripan