Glamping Lakeside, ada kapal dipinggir danau.


Saat itu saya dan kedua teman kantor lagi libur dihari yang sama, emang niatnya mau maen bareng, tapi ga ada obrolan lanjutan mau kemana atau mau ngapain. Tiba-tiba malam sebelum hari libur, Weni, satu-satunya cewe diantara kami bertiga bikin multichat di line ngasih tau kalo kita bakalan main ke Ciwidey.
Singkat waktu hari senin di November itu, jam 7 pagi kami berkumpul di indomaret gatsu dipinggir kandang kingkong. Setelah nemenin Weni sama Indra sarapan, kami langsung berangkat ke Ciwidey. Weni dibonceng sama Indra sedangkan saya bersolo karier alias sendirian. Ini bukan pertama kalinya saya ke Ciwidey sih, tapi jalan kesana lupa-lupa inget. Indra yang tau banget jalan ( karena dia bolang banget ) bertindak sebagai GPS didepan saya.

Karena tempat wisata di Ciwidey banyak, dan kami pikir-pikir juga tentang keuangan dan waktu, maka kami memutuskan untuk mengunjungi dua tempat yang lagi hits and kekinian banget di instagram, yaitu Glamping Lakeside Patenggang dan Barusen Hills. Dan karena Glamping letaknya lebih jauh dari Barusen Hills jadi kami mutusin ke Glamping dulu.

Setelah melalui jalur yang berkelak kelok diantara perkebunan teh kami sampai di pintu masuk glamping. Glamping Lakeside Patenggang saat itu emang baru dibuka, lokasinya ada di perkebunan teh Rancabali. Glamping sendiri merupakan akronim dari Glamour Camping, karena disini emang ada tempat camping mewah dengan fasilitas kaya hotel, dipinggir danau atau Situ Patenggang. Dan satu hal yang paling ikonik disini adalah restoran berbentuk kapal yang namanya pinisi resto yang saat itu (tahun 2016) lagi ngehits pake banget di instagram.

Tiket masuk glamping saat itu 20rb per orang, parkir motor 5rb, dan 10rb untuk deposit card. Karena kita dikasih semacam accses card gitu, nah kalo ilang kartunya, uang depositnya ga balik lagi. 
Dari gerbang tiket menuju pinisi resto itu ternyata masih jauh banget pemirsa, walaupun udara dingin tapi keadaan sekitar lumayan gersang dan jalan belum sepenuhnya diaspal, .saya begitu kagum ketika sampai didepan kapal raksasa sang Pinisi Resto. Restoran 2 lantai dipinggir Situ Patenggang pas banget buat menikmati keindahan danau sambil ngopi-ngopi syantik. Tapi untungnya kita ga harus beli makanan kok disni, soalnya makanannya juga mahal hehehe. 
Ingin rasanya naek ke lantai dua kemudian loncat ke danau ( becanda :p ), tapi sayang saat itu lantai dua udah dibooking entah untuk apa. ( beberapa bulan kemudian saya datang lagi kesini dan naik ke lantai 2).



di jembatan gantung akses ke kapal




dengan latar belakang pegunungan dan danau.



Setelah puas cekrek sana cekrek sini diatas kapal, kami turun untuk menuju titik terdekat dengan air danau, disana ada "Batu Cinta" yang konon adalah tempat bertemunya Dewi Rengganis dan Ki Santang. Legenda menceritakan di jaman old, dahulu Dewi Rengganis dan Ki Santang saling mencintai, kemudian mereka terpisah, karena cinta yang begitu dalam merekapun pergi untuk saling mencari, dan bertemu di batu cinta. Nah nama danau sendiri diambil dari kata pateangan-teangan yang artinya saling mencari, sekarang ada yang menyebut patengan atau patenggang.
mitosnya nih kalo ada yang pacaran datang ke batu ini, cintanya bakal langgeng, sayang karena saya jomblo ( sad T.T ) jadi belum bisa membuktikan mitos itu.

Dari batu cinta kami menyusuri pohon teh, kemudian sayup-sayup terdengar suara ulat bernyanyi..pucuk..pucuk..pucuk! hahaha. emang sih kami rasa teh terbaik emang berasal dari pucuknya ( abaikan! bukan promosi ). Nah di areal perkebunan teh juga banyak spot menarik buat berfoto ria.


pucuk..pucuk..pucuk!





... bersambung..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Mencekam di Pantai Cijeruk Indah ( part 1 )

Malam Mencekam di Pantai Cijeruk Indah ( part 2 )

Kesegaran di Sendang Geulis Kahuripan